Original Writer: Darwis Tere Liye
Mimpi-mimpi Si Patah Hati:
Harga Sebuah Pertemuan
Korban 1:
Laki-laki; 178cm/80kg;
usia, 45 tahun; golongan darah, AB; pekerjaan, wiraswasta dan politisi
sukses; tidak merokok, tidak minum minuman beralkohol, tidak menggunakan
obat-obatan terlarang; tampan, kaya raya, memiliki kekuasaan dan
pengaruh politik besar; kepala rumah tangga yang baik dan
bertanggung-jawab. Menurut tetangga sekitar, korban sehari-hari dikenal
ramah-bersahabat, memiliki keluarga yang terlihat amat bahagia.
Ditemukan
tewas oleh room boy di kamar 709 salah satu hotel ternama, 28 Februari
tahun ini. Hasil diagnosis laboratorium forensik menunjukkan korban
positif tewas karena kesengajaan. Meskipun belum bisa dipastikan
bagaimana dan oleh siapa. Kemungkinan besar diracun.
Korban 2:
Perempuan;
164cm/55kg; usia, 39 tahun; golongan darah, O; pekerjaan, perancang
busana (pakaian wanita); dua kali dalam seminggu rutin fitness dan
berendam lulur madu;
cukup cantik dan menarik (untuk ukuran wanita yang
sepuluh tahun lagi menginjak usia setengah abad); ibu rumah tangga yang
baik meskipun pernikahannya sekarang memaksa istri pertama suaminya
pergi entah kemana. Korban adalah istri korban 1.
Ditemukan
tewas oleh pembantu rumah tangga di kamar tidurnya di lantai dua, 7
Maret tahun ini (satu minggu setelah suaminya meninggal). Hasil
diagnosis laboratorium menunjukkan korban positif tewas karena diracun
(brucine).
Korban 3:
Perempuan;
170cm/52kg; usia, 27 tahun; golongan darah, O; pekerjaan, artis dan
model ternama; bintang iklan salah satu produk sabun dan shampo terlaris
di seluruh negeri; cantik, single dan masih muda. Korban adalah adik
sepupu korban 2, satu tahun terakhir tinggal bersama di rumah besar
mewah suami-istri (korban 1 dan korban 2) tersebut.
Ditemukan
tewas oleh anak sulung suami-istri tersebut di kamar mandi, 14 Maret
tahun ini (satu minggu setelah kakak sepupunya tewas dan atau dua minggu
setelah suami kakak sepupunya ditemukan mati). Hasil diagnosis
laboratorium menyimpulkan korban positif tewas karena diracun (arsenik).
Skenario 1:
Semenjak
pertemuan pertama mereka setahun silam, Ardem Asmoro sudah jatuh hati
dengan gadis itu. Amat cantik, segar mengundang di usia mudanya. Apalagi
kondisi pernikahan keduanya saat ini semakin lama semakin menyebalkan.
Sofia sangat possesif dan Ardem Asmoro kehilangan semua kepercayaan dan
kebebasannya, dua kemewahan yang sangat penting bagi seorang pengusaha
dan politisi sukses seperti dirinya. Lihatlah istrinya sekarang, sama
sekali tidak terlihat menarik, bahkan dibandingkan dengan sekretaris
pribadinya yang gendut sekalipun. Padahal daya tarik itulah yang dulu
membuatnya menggebu-gebu menceraikan istri pertamanya dan nekad
menikahinya.
Ironisnya Ardem Asmoro bertemu dengan gadis
muda itu pada acara ulang tahun pernikahannya dengan Sofia yang
kesepuluh. Gadis itu menyempatkan diri datang setelah pemotretan sebuah
produk lokal yang tidak terkenal. Dengan malu-malu dituntun sendiri oleh
Sofia, ia memperkenalkan dirinya: Ajeng, adik sepupu jauh Sofia.
Seketika Ardem melupakan resepsi dan seluruh undangan yang memadati
ruang convention besar hotel. Sepanjang sisa malam itu, matanya tak
lepas menatap wajah berhias senyuman Ajeng, yang lemah gemulai menyeruak
di antara kerumunan orang-orang, serta suaranya yang terdengar bak
buluh perindu.
Dengan kekuasaan bisnis dan pengaruhnya,
Ardem Asmoro dengan mudah membawa gadis itu menuju puncak ketenaran
karir modelnya. Dan entah karena memang Ardem Asmoro terlihat tampan,
kaya, serta berkuasa atau karena Ajeng ingin membalas budi baiknya,
mereka berdua terlibat affair panas. Istrinya yang merasa telah
menguasai dan me-monitor segala aktivitas suaminya, sedikit pun tidak
curiga dan menyetujui begitu saja saat Ajeng memutuskan untuk pindah ke
kota megapolitan ini, tinggal bersama dengan mereka.
Jangankan
istrinya, media massa yang terkenal amat ganas di kota ini pun tak
mampu mendeteksi hubungan gelap tersebut. Andaikata tahu, mereka
bagaikan mendapatkan durian runtuh: gosip terpanas yang pernah ada,
perselingkuhan seorang kandidat kuat penguasa kota dengan seorang artis
dan model ternama, yang tak lain adalah adik sepupu jauh istrinya
sendiri.
Malam itu mungkin karena nafsu liar mereka yang
menggebu-gebu, Ardem Asmoro dan Ajeng bertindak tidak hati-hati. Ia lupa
istrinya sedang mengadakan pargelaran adibusana di tempat yang sama.
Diduga
Sofia menangkap basah mereka berdua tengah mabuk bersama di lorong
hotel tanpa sedikit pun menyadarinya. Malam itu juga, Sofia yang sakit
hati, terhinakan dan terkhianati membayar salah seorang service room
untuk membubuhkan racun di minuman yang dipesan oleh mereka. Dan
hasilnya segera terlihat, Ardem Asmoro ditemukan tewas membeku keesokan
harinya. Kenapa Ajeng bisa selamat? Penyidik menduga mungkin karena ia
tidak sempat meminum minuman mematikan tersebut, atau mungkin ia pulang
lebih awal dari biasanya. Entahlah.
Tetapi dipastikan
Ajeng mencurigai keterlibatan Sofia atas pembunuhan Ardem Asmoro malam
itu. Ia merasa perselingkuhan mereka berdua sudah diketahui oleh Sofia
dan itu menjadi musabab pembunuhan. Ia menyadari setiap saat posisinya
terancam. Hubungan mereka di rumah besar-mewah itu menjadi tegang,
meskipun itu luput dari perhatian puluhan wartawan dan penyidik yang
ramai meliput dan bertanya.
Malam itu, satu minggu setelah
kematian Ardem Asmoro, Ajeng memutuskan untuk membunuh Sofia terlebih
dahulu sebelum ia yang malah dibunuh. Racun yang dimasukkan secara
hati-hati ke dalam tablet obat peramping badan yang rajin diminum Sofia
setiap malam, benar-benar pamungkas. Sofia ditemukan tewas membeku esok
paginya.
Ternyata Ajeng tidak menyadari perbedaan beban
psikis antara saat seseorang tengah merencanakan membunuh, kemudian
mengeksekusinya dengan setelah melakukan kejahatan itu sendiri. Ia
ketakutan sepanjang hari, apalagi wartawan dan penyidik semakin gencar
mencercanya dengan ribuan pertanyaan. Berbagai hipotesis digelar media
massa, berbagai skenario digelar oleh penyidik. Meskipun tak satu pun
yang menyinggung-nyinggung keterlibatannya, Ajeng merasa kejahatannya
setiap saat bisa terungkap. Tak tahan membayangkan berbagai kemungkinan
yang akan menimpanya, malam itu Ajeng nekad memutuskan untuk menenggak
sebotol racun lainnya.
Ia ditemukan tewas dengan mulut
berbusa pagi itu. Seminggu setelah kakak sepupunya ditemukan tewas di
kamar tidurnya. Dua minggu setelah suami kakak sepupunya ditemukan mati
di kamar hotel.
Skenario 2:
Malam
itu Ajeng berteriak histeris meminta pertanggung-jawaban Ardem Asmoro.
Ia sudah berbadan dua, tetapi sebaliknya Ardem Asmoro dengan ringannya
bersikukuh menolak, dan malah memilih menggugurkan kandungan tersebut.
Banyak hal penting yang harus dilakukannya enam bulan mendatang.
Pemilihan penguasa kota, ekspansi bisnis besar-besaran, hingga memulai
kampanye nasional agar ia bisa menguasai organisasi besar itu.
Affair
ini tidak akan mungkin berlanjut menjadi sebuah pernikahan. Seberapa
besar pun otak warasnya tergoda pada Ajeng. Situasinya amat berbeda
dengan ketika ia dulu memutuskan untuk meninggalkan istri pertamanya.
Resikonya terlalu besar.
Maka membuallah Ardem Asmoro soal
betapa ia masih mencintai Sofia. Tentang hubungan mereka selama ini
yang hanya selingan belaka, baginya sedikit pun ia tidak mencintai
Ajeng. Pertengkaran itu berakhir ketika Ajeng berurai air mata berlari
keluar dari kamar hotel yang terasa seperti neraka. Tetapi sebelum pergi
meninggalkan hotel itu, di tengah rasa kecewa yang membelit, putus asa
yang menggantung, dan rasa malu yang mencoreng paras cantiknya, tanpa
pikir panjang Ajeng masih sempat mengupah seorang service room untuk
membubuhkan racun di minuman yang dipesan oleh Ardem Asmoro. Dan
hasilnya, Ardem Asmoro ditemukan tewas membeku pagi itu. Seluruh media
massa ramai memberitakan pengusaha dan penguasa yang ditemukan mati
mengenaskan di kamar hotel yang secara bersamaan entah kebetulan atau
tidak ternyata juga tengah menggelar pargelaran adibusana koleksi istri
tercintanya.
Kemarahan Ajeng ternyata tidak cukup hingga
disitu. Merasa Sofia-lah yang menjadi penghalang baginya memiliki Ardem
Asmoro, seminggu setelah kematian pasangan selingkuhnya, Ajeng nekad
memasukkan racun ke dalam tablet obat peramping Sofia. Racun itu bekerja
efektif dan cepat, Sofia ditemukan beku tak bernyawa esok paginya di
kamar tidurnya. Penduduk kota semakin heboh. Belum genap mereka
membangun dugaan penyebab kematian misterius pertama tuan rumah,
sekarang ditambah lagi dengan kejadian yang lebih misterius di keluarga
yang selama ini dikenal bahagia dan jauh dari gosip media.
Dan
ternyata pembunuhan berantai itu belum usai. Menyadari semuanya sudah
tak tersisa lagi. Masa depannya, kekasih pujaan hatinya, harga dirinya,
dan beribu perasaan dicampakkan, dihinakan dan lain sebagainya, malam
itu Ajeng gelap mata, nekad memutuskan untuk menenggak sebotol penuh
racun lainnya. Dan seperti seminggu lalu dan atau dua minggu lalu, tubuh
Ajeng ditemukan membeku dengan mulut berbusa telentang di atas tegel
mewah kamar mandinya.
Meninggalkan berjuta pertanyaan.
Skenario 3:
Dua
skenario itu menjadi favorit media massa, apalagi setelah penyidik
laboratorium forensik memastikan bahwa Ajeng dipastikan memang tengah
mengandung tiga bulan. Tetapi bagi masyarakat kota kami, sulit sekali
membayangkan Sofia dan Ajeng yang selama ini dikenal sebagai figur baik
hati dan dermawan mampu melakukan kejahatan sebesar itu. Bagaimana
mungkin kalian akan mencurigai tetangga baik kalian yang selama ini
dikenal amat santun, respek, dan pandai membawa diri. Untuk menuduhnya
membunuh seekor anjing dengan sengaja pun kalian takkan tega.
Maka
berkembanglah skenario ketiga yang melibatkan orang luar. Skenario yang
hingga hari ini sama sekali tidak bisa dibuktikan, meskipun harus
diakui lebih menyenangkan untuk menjawab rasa penasaran dan
ketidakpercayaan publik atas dua skenario sebelumnya.
Malam
itu, istri pertama Ardem Asmoro yang sepuluh tahun lalu diusir oleh
suaminya dan lari entah kemana, kembali pulang ke kota ini. Pulang
membawa dendam yang membinasakan.
Malam itu, dengan
menggunakan jaket tebal dan topi yang menutupi separuh muka ia
menyelinap ke ruang pargelaran adibusana Sofia. Ia menatap penuh
kebencian Sofia yang amat anggun duduk tersenyum menerima kilau jepretan
puluhan kamera. Wanita itu sungguh telah merampas seluruh
kebahagiaannya.
Maka sesuai rencananya, di tengah-tengah
acara pertunjukkan ia naik ke atas, menuju kamar bekas suaminya yang
tengah menginap. Ia juga yang pagi hari sebelumnya berpura-pura menjadi
Sofia, menelepon kantor bekas suaminya, meminta Ardem Asmoro agar mau
menginap di hotel tempat berlangsungnya pargelaran adibusana Sofia.
Ia
mencegat service room yang datang menghantarkan hidangan makan malam.
Membubuhkan sebotol racun yang menjadi simbol sakit hatinya selama ini
di minuman yang dipesan oleh suaminya. Dan keesokan harinya, Ardem
Asmoro ditemukan mati membeku di kamar hotel itu.
Dendam
percintaan yang terkhianati itu ternyata sangat mengerikan. Mantan istri
Ardem Asmoro juga memutuskan untuk membunuh Sofia seminggu kemudian.
Dengan dingin ia membayar petugas apoteker langganan Sofia untuk
mengganti isi tablet obat peramping tubuh dengan bubuk racun brucine.
Keesokan paginya Sofia ditemukan tewas mengenaskan.
Yang
menjadi pertanyaan kenapa Ajeng menjadi sasaran berikut pembalasan
dendam mengerikan tersebut? Besar kemungkinan mantan istri Ardem Asmoro
itu tahu hubungan gelap mereka selama ini. Ia tidak peduli apakah Ajeng
memiliki kaitan yang membuatnya terusir sepuluh tahun silam atau tidak,
baginya semua pihak yang memiliki affair dengan mantan suaminya harus
dibinasakan. Maka malam itu ia membayar orang upahan untuk memasukkan
sebotol racun lainnya ke dalam santap malam Ajeng. Pagi itu, model dan
artis terkenal itu ditemukan mati tertelentang di tegel mewah kamar
mandinya.
***
Hujan gerimis membasahi
pemakaman. Orang-orang berjalan pelahan dengan pakaian serba hitam
merapat mendekati buncahan tanah merah. Beberapa di antaranya memegang
sapu tangan, menyeka buliran air mata, membuang hingus, atau sekadar
basa-basi agar terlihat turut bersimpati. Imam membacakan doa-doa,
berharap langit berbaik hati menerima kembalinya sang anak manusia.
Tragis sekali.
Ini
adalah pembunuhan ketiga di rumah keluarga terkenal itu. Seminggu yang
lalu nyonya rumah yang dikenal masyarakat luas sebagai perancang busana
ternama juga ditemukan tewas diracun di kamar tidurnya. Dua minggu
sebelumnya sang tuan rumah, seorang pengusaha dan politisi sukses, lebih
mengenaskan ditemukan mati terbunuh di kamar hotel tempat
berlangsungnya pargelaran adibusana istrinya. Dan tadi pagi, artis serta
model ternama, sekaligus adik sepupu nyonya rumah yang kebetulan
tinggal bersama dengan mereka ditemukan tertelentang mati dengan mulut
berbusa di lantai kamar mandi.
Peti mayat itu
pelahan-lahan diturunkan. Orang-orang menahan nafas. Aku menaburkan
rangkaian bunga melati sambil tak henti melirik kesana-kemari.
Akulah,
putri sulung Ardem Asmoro, anak tiri Sofia, yang tadi pagi menemukan
mayat Ajeng membeku di kamar mandi itu. Akulah yang berteriak histeris
memanggil bantuan, seperti yang juga aku lakukan saat menemukan mayat
biru Sofia sebelumnya.
***
Acara pemakaman
yang menjemukan ini sudah hampir berakhir, tetapi pria yang
kutunggu-tunggu itu belum kelihatan juga. Aku mendesah dalam hati.
Pura-pura menghentikan taburan bunga melati untuk menghapus air di
kelopak mataku.
Ketika ayah mati dua minggu lalu, yang aku
yakin sekali itu memang pilihannya, di sore pemakamannya, pria itu
datang entah dari mana. Begitu tegap dan gagah. Ia mengenakan tuksedo
hitam legam, dasi hitam kelam, sepatu hitam mengkilat, dan kacamata
hitam hebat. Aku terkesima melihat kehadirannya. Seperti para pelayat
lainnya, ia mengecup tanganku takzim, berbisik tentang duka cita. Dan
hatiku entah mengapa sebaliknya tiba-tiba goncang berbisik soal cinta.
Ia melepas kaca mata hitamnya, dan kami berdua untuk beberapa kejap
bertatapan dalam sekali.
Aku tiba-tiba lunglai dalam
putaran perasaan yang tidak aku mengerti. Pria gagah itu, siapapun dia,
telah membunuh jantungku seketika. Sayang sekali, setelah acara
pemakaman ayah, ia raib begitu saja ditelan bumi.
Berhari-hari
aku mencoba melacak keberadaannya. Siapa dia? Dari mana asalnya? Tak
satu pun yang bisa memberikan jawaban. Malam-malam kuhabiskan dengan
menyebut parasnya, pagi-sore kubakar dengan meratapi tubuhnya, dan siang
kubunuh dengan membayangkan bisikan suaranya. Hingga entah dari mana,
di ujung rasa rindu dan keputusasaan untuk menemukannya, tiba-tiba
muncul gagasan gila tersebut. Gagasan yang benar-benar gila.
Pria
itu mungkin akan datang kembali, jika di keluarga ini ada pemakaman
berikutnya. Ya, kenapa tidak. Pasti ia akan datang kembali, jika di
keluarga ini ada pemakaman berikutnya. Aku tak bisa menghentikan otak
jahatku berpikir tentang gagasan tersebut. Semakin lama semakin keras
menghantam jantungku. Dan bukankah dari dulu aku memang tidak menyukai
anggota keluarga lainnya. Harus ada yang mati di keluarga ini sebagai
harga pertemuan dengannya.
Maka malam itu aku memasukkan
bubuk racun brucine ke dalam tablet obat peramping tubuh Sofia. Ia
berhak mendapatkannya. Terlebih aku berhak mendapatkan kesempatan kedua
untuk bertemu kembali dengan pria misterius itu.
Di sore
hari pemakaman Sofia, di tengah-tengah kesedihan para pelayat, pria
gagah itu kembali datang. Dengan tuksedo hitam legam, dasi hitam kelam,
sepatu hitam mengkilat, dan kacamata hitam hebat. Aku terkesima melihat
kehadirannya lebih dari saat pertama kali dulu bertemu. Seperti para
pelayat lainnya, ia mendekatiku mengecup tanganku takzim, berbisik
tentang duka cita. Dan hatiku tiba-tiba entah terbang kemana.
Ia
melepas kaca mata hitamnya, dan kami berdua untuk beberapa kejap
bertatapan dalam sekali. Tidak hanya itu, ia bahkan memelukku erat-erat.
Gemetar badanku menahan luapan perasaan itu. Aku benar-benar
dimabukkan, sama sekali tidak peduli dengan kenyataan bahwa pertemuan
ini sangat mahal harganya. Sayang sekali, ketika acara pemakaman Sofia
berakhir, pria gagah itu untuk kedua kalinya hilang entah kemana.
Aku
semaput dalam perasaan rindu. Aku ingin menghambakan diri dalam
pelukannya. Aku menginginkannya, tetapi tidak tahu harus mencarinya
kemana. Dan tidak mengejutkanku ketika cepat sekali gagasan yang sama
itu muncul kembali di otakku. Pria itu akan datang jika ada pemakaman
berikutnya di keluarga ini. Jika ada pemakaman itu berarti harus ada
yang mati di keluarga ini. Dan Ajeng, yang selama ini memanfaatkan ayah
untuk mengejar popularitasnya layak menjadi tumbal pertemuanku dengan
pria itu.
Malam itu aku membubuhkan sebotol racun arsenik
dalam minuman Ajeng. Keesokan paginya, pura-pura aku hendak
membangunkannya, dan persis seperti dugaanku, gadis binal itu ditemukan
mati tertelentang di kamar mandinya. Menjadi harga yang harus dibayar.
***
Satu
dua para pelayat meninggalkan pemakaman. Senja semakin kelam. Hujan
turun semakin deras. Aku gemetar memegang payungku. Menatap nanar
sekeliling. Pria gagah itu belum juga kelihatan batang hidungnya.
Deru
mobil distarter terdengar ramai, kemudian dengan pelan dan khidmat
meninggalkan tanah merah pemakaman, menyisakan deretan kendaraan yang
sekarang bisa dihitung dengan jari tangan. Pria misterius itu belum juga
datang.
Petugas pemakaman membenahi peralatan hatihati,
takut mengganggu kesendirianku. Malam datang menjelang. Hujan turun
semakin gila. Petir sambarmenyambar diselingi dengan hentakan guruh.
Pria itu belum juga datang.
Mungkin
ia sudah terbiasa dengan satu pemakaman. Mungkin sekarang dibutuhkan
dua pemakaman sekaligus untuk membuatnya datang. Otak jahatku tak
terkendali bergemuruh mencari alasan. Ya, dua pemakaman sekaligus.
Memikirkan itu, aku menyeringai tersenyum lebar: kedua anak kembar Sofia
sekarang pasti sedang tertidur pulas di kamarnya.
***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar