Original Writer: Darwis Tere Liye
Mimpi-mimpi Si Patah Hati:
Antara Kau dan Aku
Lantai sebelas sepi. Nyaris semua penghuninya keluar makan siang,
hanya ada dua-tiga orang saja yang masih berkutat di depan komputer
masingmasing. Dan salah dua di antaranya adalah gadis dan pemuda yang
duduk jauh berseberangan itu. Terpisah oleh meja-meja dan partisi
setinggi pundak, juga dispenser dan printer sentral multi fungsi di
tengahtengah ruangan.
Tetapi entah siapa yang menyusun
berbagai halangan tersebut, disengaja atau tidak, mereka berdua tetap
masih bisa saling melihat dari sela-sela berbagai barang. Untuk ukuran
sejauh itu tidak jelas benar memang paras muka masing-masing, tetapi
kalian masih bisa dengan mudah memahami gerak tubuh orang di
seberangnya.
Seperti yang sedang terjadi saat ini. Gadis
itu melirik berkali-kali ke depan, ia sedang menunggu. Menunggu pemuda
itu beranjak berdiri, kemudian turun untuk makan siang. Resah sekali ia.
Seperti kemarin, hari ini gadis itu ingin berpura-pura tidak sengaja
berbarengan turun dengannya.
Sedikit saling menyapa di lift, lantas
sedikit basa-basi sebelum berpisah menuju tempat makan “favorit”
masing-masing. Tetapi nampaknya pemuda itu tidak menunjukkan tanda-tanda
akan mengakhiri pekerjaannya.
Detik demi detik, waktu
berjalan terasa amat lambat. Istirahat siang tinggal tiga puluh menit
lagi. “Ayolah, lakukan saja,” bujuk separuh jantungnya. “Bodoh! Kau
hanya akan mempermalukan dirimu saja!” separuh jantungnya lagi menyela
dengan sinisnya.
Dan setelah sekian menit lagi berkutat
dengan keraguannya, akhirnya gadis itu nekad memberanikan diri berjalan
menghampiri, toh ia bisa berpura-pura menuju toilet yang memang harus
melewati meja pemuda itu jika rencananya terpaksa berubah. Sedikit
gugup, seperti hari-hari yang lalu, melangkahlah kakinya mendekat.
“Nggak makan siang, Zhar?” gadis itu berusaha menegur senormal mungkin, tersenyum selepas mungkin.
Pemuda itu mengangkat kepalanya. Balas tersenyum. Menggeleng.
“Masih banyak kerjaan. Kamu sendiri, nggak makan?”
“Malas.
Nggak ada teman turun!” gadis itu tersenyum mengangkat bahu, menanti
harap-harap cemas reaksi pemuda itu. Si pemuda ternyata hanya balas
mengangkat bahu,
“Mungkin kamu bisa bareng, Sinta. Kayaknya dia juga belum makan!”
Begitulah.
Gadis
itu sekian detik kecewa, sia-sia sudah, tak ada lagi yang bisa
dilakukannya selain beranjak lemah melangkah menuju pintu keluar.
“Seharusnya, si bodoh itu bilang, ‘Ah, kebetulan sekali. Aku juga belum
makan. Mau kutemani?’ Dasar bodoh!” umpatnya dalam hati. Atau karena ia
kurang jelas menyampaikan maksudnya? Seharusnya ia bilang saja langsung,
“Kamu mau menemaniku?” seperti yang seringkali dilakukan Susi saat
menggoda manajer lantai sepuluh.
Tetapi itu tidak mungkin
dilakukannya kan? Ia bukan type Susi yang agresif. “Seharusnya si bodoh
itu cukup mengerti,” umpatnya sekali lagi.
***
Berkali-kali
ia melirik gadis di seberangnya. Menunggu tak sabaran. “Kapan lagi ia
akan turun makan siang?” serunya dalam diam. Apakah ia harus melangkah
mendekatinya, lantas mengajaknya makan siang bersama, seperti yang
selalu dianganangankannya? Tidak. Ia tidak pernah memiliki keberanian
untuk melakukannya.
Kegelisahaan pemuda itu semakin
memuncak, istirahat siang tinggal tiga puluh menit. “Ayolah, berdiri,”
mohonnya dalam-dalam. Ia menangkupkan kedua telapak tangannya.
Dan
akhirnya wanita itu berdiri juga dari tempat duduknya. “Ya Tuhan,
semoga ia melewatiku. Please, God!” si pemuda bersorak penuh harap.
Tentu saja gadis itu harus melewatinya, karena pintu keluar terletak
dekat mejanya.
Suara sepatu gadis itu terdengar memenuhi
gendang telinganya. Si pemuda dengan segala upaya terus berpura-pura
menatap layar komputer, mengisikan sembarang angka ke dalam kotak
kosong. Tentu saja semua pekerjaannya sudah rampung setengah jam yang
lalu. Sedari tadi ia sudah ingin turun makan siang, tetapi seperti dua
hari lalu, ia ingin sekali berpura-pura tidak sengaja berbarengan turun
dengannya. Sedikit saling menyapa di lift, lantas sedikit basa-basi
sebelum berpisah menuju tempat makan “favorit” masingmasing.
Gadis
itu semakin dekat, detak jantung si pemuda semakin kencang. Ia
bersiap-siap hendak bangkit dari duduknya. Paling sial jika ia tidak
berani mengikutinya, mungkin ia bisa berpura-pura menuju toilet,
bukankah letaknya searah dengan pintu lift? Yang penting ia bisa sekadar
tersenyum menyapanya.
“Nggak makan siang, Zhar?” ternyata gadis itu justru menegurnya, sambil tersenyum.
Meluncurlah
sepuluh kembang api besar di jantung si pemuda. Ini diluar rencananya,
apalagi dengan senyum itu. Ya Tuhan, gelagapan si pemuda bingung hendak
menjawab apa.
“Masih banyak kerjaan. Kamu sendiri, nggak makan?”
Hanya
itu yang keluar dari mulutnya. Sekadar menggeleng patah-patah, dan
tersenyum dengan muka kebas. “Semoga ia tidak melihat tampang tololku,”
keluh pemuda itu dalam hati.
“Malas. Nggak ada teman turun!” gadis itu tersenyum sambil mengangkat bahu.
Separuh
jantungnya sontak berteriak, come on man, sekaranglah waktunya, ajak ia
makan siang bersama. Bukankah ia “mengundang”mu? Tetapi separuh
jantungnya yang lain gemetar tak tahu harus bilang apa. Senyuman dan
kerlingan gadis itu telah mematikan otaknya berpikir, dan di tengah
kegaguan ia justru berkata, “Mungkin kamu bisa bareng, Sinta. Kayaknya
dia juga belum makan!”
Ya ampun, apa yang telah kukatakan,
si pemuda menekuk lututnya. Perutnya tiba-tiba melilit menyesali
kebodohannya. Dan gadis itu dengan amat anggun hilang dari pandangan.
***
Hari
ini jum’at. Besok dan lusa libur. Gadis itu sudah merencanakan untuk
berlibur keluar kota, tapi undangan pernikahan anak direktur membatalkan
rencananya. Lagipula bukankah itu berarti semua orang akan hadir di
sana, dan jika semua orang hadir itu berarti pemuda itu juga akan
datang. Ia senyumsenyum sendiri. Otaknya terbungkus oleh harapanharapan.
Setidak-tidaknya
di sana ia bisa mencari berbagai alasan untuk duduk di dekatnya.
Berbincang tentang apa saja. Dan jika sedikit beruntung mungkin saja
bisa pergi-pulang ke tempat pesta bersama-sama. Membayangkannya saja
gadis itu sudah tidak bisa berkata-kata lagi.
Tetapi
semenjak undangan itu dibagikan seminggu yang lalu, pemuda itu dalam
sedikit kesempatan mereka bertemu di lift saat berangkat kerja (ia
sengaja menunggu di lobby sampai pemuda itu tiba), saat makan siang, dan
saat pulang kerja (ia sengaja menunggu pemuda itu membereskan mejanya
sebelum turun pulang) pemuda itu sedikit pun tidak pernah menyinggung
soal pesta pernikahan. Bagaimana hendak menyinggungnya, jika selama ini
mereka sekadar saling ber-hai apa kabar saja. Berkali-kali gadis itu
membujuk jantungnya agar berani bertanya, “Minggu depan, kamu datang gak
ke tempat pernikahan Vania?” tapi ia selalu gagal.
Jum’at
semakin senja. Kesempatannya untuk menjadikan mimpi-mimpi itu menjadi
nyata semakin tipis. Ia harus melakukannya jika tidak maka musnah sama
sekali harapan itu. Dan setelah bergulat habishabisan meneguhkan diri,
gadis itu beranjak mendekati pemuda itu. Gemetar kakinya melangkah, “Ya
Tuhan, tolonglah….” seru batinnya lirih.
“Hai, Zhar. Kamu lagi sibuk?”
Kentara
sekali kata-katanya bergetar saking gugupnya. Gadis itu membujuk
jantungnya segera tenang. Tersenyum amat kaku. Pemuda itu mengangkat
kepalanya, balas tersenyum. Menghembuskan nafasnya dalam-dalam.
“Iya nih. Kayaknya aku lembur malam ini!”
“Kamu hari minggu datang ke resepsi Vania, gak?”
Gadis itu berdiri sambil diam-diam menyilangkan jari telunjuk dan jari tengahnya. Please, God.
“Belum tahu. Lihat besok. Kamu nggak kesana?”
“Belum ada teman. Malas kalau sendirian!”
Ya
Tuhan, orang bodoh sekali pun tahu apa maksud hatinya. Tetapi pemuda
itu hanya menatapnya lamat-lamat, kemudian sambil menggeleng, pelan
berkata,
“Si Sinta katanya harus menjenguk ibunya!”
Lumat sudah harapan gadis itu, dengan lemah ia berkata, “Ya, ibunya sakit, sepertinya aku harus berangkat sendirian.”
“Dasar bodoh. Bodoh. Bodoh sekali,” umpat gadis itu dalam hati. Jika sudah begini apalagi yang harus dilakukannya?
“Hai,
Dahlia. Kamu belum punya teman pergi ke pernikahan Vania?” pemuda lain
yang dari tadi berdiri membereskan berkas di mejanya, di sebelah mereka,
menyela pembicaraan. Gadis dan pemuda itu menoleh serempak ke muasal
suara. Andrei, nama pemuda itu, dan ia tersenyum jantan mendekati
Dahlia.
“Aku juga belum punya barengan. Kamu mau bareng aku? Bagaimana? Nanti aku jemput kamu pagi-pagi ya!”
Gadis
itu hendak mengangkat bahunya: keberatan. Tetapi hatinya yang
berkali-kali mengumpat, “Dasar bodoh, harusnya kau melakukannya seperti
Andrei. Harusnya kau menyela dan berkata, ‘ia tidak akan pergi
bersamamu, ia akan pergi bersamaku’” kesal sekali, dan tanpa disadarinya
ia justeru menganggukkan kepalanya. Andrei tersenyum senang, sambil
memegang bahu gadis itu ia berkata menggoda, “Oke, sayang. Sampai ketemu
hari minggu! Jangan lupa, dandan yang cantik.”
***
Hari
ini jum’at. Besok dan lusa libur. Sudah seminggu ini pemuda itu
menanti-nanti kesempatan untuk bertemu lebih lama dengan gadis itu,
sekadar untuk bilang, “Hai, kamu mau pergi bareng aku ke pernikahan
Vania, gak?” ia butuh waktu kurang lebih lima menit untuk berbincang dan
mengajaknya pergi bersama.
Dengan hanya bertemu di lift
saat berangkat kerja (ia sengaja menunggu di lobby sampai gadis itu
tiba), saat makan siang, dan saat pulang kerja (ia sengaja menunggu
gadis itu membereskan mejanya sebelum beranjak turun) itu sama sekali
tidak cukup untuk membicarakan masalah ini. Apalagi mereka hanya saling
ber-hai apa kabar, tersenyum kaku, lantas berdiam diri dalam dengungan
suara lift yang bergerak.
Berkali-kali ia membujuk
jantungnya untuk mendekati meja gadis itu. Bertanya langsung padanya,
“Apakah kau mau pergi bersamaku,” tapi berkali-kali pula ia gagal
meneguhkan diri. Sore jum’at semakin senja. Kesempatannya untuk
menjadikan mimpi-mimpi itu menjadi nyata semakin tipis. Ia harus
melakukannya, jika tidak ia akan menyesalinya seumur hidup. “Lakukan
sekarang juga, Zhar,” bisikan itu semakin kencang.
Dan
pemuda itu di ujung keputus-asaan akhirnya nekad juga memutuskan. Tetapi
saat ia siap berdiri dari duduknya, gadis itu justeru terlihat berdiri
dari mejanya. Melangkah menujunya. “Ya Tuhan, semoga ia melewatiku,
please God.” Desak batinnya kuat-kuat. “Jika ia melewatiku, aku berjanji
akan menanyakan soal itu,” janjinya untuk kesekian kali.
Suara
sepatu gadis itu terdengar semakin keras di telinganya. Ia semakin
dekat, dan debar jantungnya semakin kencang. Dengan meneguhkan hati
pemuda itu bersiap untuk menyapa,
“Hai, Zhar. Kamu lagi sibuk?”
Gadis
itu sambil tersenyum ternyata lebih dahulu menyapanya. Pemuda itu kaku
seketika. Kata-katanya hilang menyentuh udara. Berusaha tersenyum
senormal mungkin. Menarik nafas dalamdalam.
“Iya nih. Kayaknya aku lembur malam ini!” Ya Tuhan, padahal pekerjaan untuk minggu depan pun sudah kurampungkan.
“Kamu hari minggu datang ke resepsi Vania, gak?”
Gadis
itu tersenyum semakin manis. Pemuda itu duduk semakin kebas. Ayolah
katakan. Ajak dia. Ayolah katakan. Tetapi separuh jantungnya yang lain
gemetar ketakutan. Kau hanya akan mempermalukan diri sendiri, bodoh.
Bagaimana kalau dia menolak?
“Belum tahu. Lihat besok. Kamu nggak kesana?”
Ya
Tuhan, apa yang telah kukatakan, pemuda itu mengumpat berkali-kali.
Seharusnya langsung saja mengajaknya pergi bersama. Senyuman gadis ini
membuatnya sedikit pun tidak bisa berpikir sehat lagi.
“Belum ada teman. Malas kalau sendirian!”
Ayolah
katakan. Ajak dia. Bukankah ia telah memberikan kode padamu. Sedikit
lagi.... tak terlalu susah. Pemuda itu mencengkeram keras-keras
kursinya. Apa sulitnya mengatakan itu, bentak separuh jantungnya. Dan
tanpa ia sadari, di tengah usahanya membujuk separuh jantungnya yang
lain, ia menggeleng-gelengkan kepalanya. Ia teringat Sinta, mungkin
dengan menyela pembicaraan ini dengan kabar soal Sinta akan sedikit
membantu, maka tanpa menyadari akibatnya sedikit pun pemuda itu justeru
berkata,
“Si Sinta katanya harus menjenguk ibunya!”
Tidak.
Ia sama sekali tidak bermaksud menolaknya. Tetapi gadis itu dengan
tetap tersenyum berkata pelan, “Ya, katanya sakit, sepertinya aku harus
berangkat sendirian.”
Ya Tuhan, kerusakan apa yang telah kuperbuat?
“Hai,
Dahlia. Kamu belum punya teman pergi ke pernikahan Vania?” pemuda lain
yang dari tadi berdiri membereskan berkas di mejanya, di sebelah mereka,
menyela pembicaraan. Gadis dan pemuda itu menoleh serempak ke muasal
suara. Andrei, nama pemuda itu, dan ia tersenyum jantan mendekati
Dahlia. “Aku juga belum punya barengan. Kamu mau bareng aku? Bagaimana?
Nanti aku jemput kamu pagi-pagi ya!”
“Tolonglah. Jangan.
Jangan katakan setuju,” pemuda itu memohon dalam hatinya. “Jangan sampai
kau pergi dengan bajingan ini. Ia playboy kelas kakap, dan kau akan
terperangkap.” Tetapi gadis itu justeru tersenyum menganggukan
kepalanya.
Andrei tersenyum senang, sambil memegang bahu
gadis itu ia berkata menggoda, “Oke, sayang. Sampai ketemu hari minggu!
Jangan lupa dandan yang cantik.”
***
Ia
mengharapkan pagi ini pemuda itu yang datang menjemputnya. Tetapi justru
Andrei yang datang parlente memencet bel. Tak tahu malu, Andrei mengaku
sebagai pacarnya. Dan gadis itu dengan terpaksa tersenyum masam
menanggapi godaan ibu dan bapaknya, “Akhirnya, anak gadis kami pergi
dengan teman lelakinya. Nak Andrei jangan sampai kau membuatnya
menangis, loh!” Itu kata ayah gadis itu sambil tersenyum di balik pagar.
Dan pemuda playboy ini tersenyum begitu meyakinkan menggandengnya.
Semua
teman kantor bersuit saat melihat mereka tiba di ruang resepsi, Susi
pun sempat berbisik pelan, “Gila lu, katanya pemalu. Ternyata yang kakap
begini berhasil juga lu gaet!” mukanya memerah. Dengan tingkah laku
Andrei yang sangat berpengalaman, gadis itu merasa di dahinya seakanakan
tertempel baliho besar yang menunjukkan kalau mereka berdua benar-benar
pasangan hebat. “Bodoh, seharusnya kaulah yang bersamaku sekarang,”
umpatnya dalam hati, mencari sosok pemuda itu dalam keramaian. Dan si
bodoh itu ternyata berdiri tak acuhnya di pojok ruangan. Menyendok
koktail. Seolah tak peduli kehebohan yang sedang terjadi.
Ketika
tiba saatnya berfoto, semua teman-teman berkumpul di sebelah panggung,
bersiap menunggu MC menyebutkan giliran mereka: lantai sebelas. Ketika
olok-olok semakin ramai saat mereka berkumpul, si bodoh ini justeru
semakin tak peduli.
“Ah ini dia si Azhar, kamu udah lihat Dahlia kan. Gila, serasi bukan!”
“Seharusnya kau menirunya Zhar. Pendiam, tapi diam-diam bawa gebetan!”
Yang lain tertawa ramai sekali.
“Andrei,
kalau lu sedikit saja membuat Dahlia menangis, kutikam kau!” seru
seseorang lagi, dan Andrei sambil merengkuh bahu Dahlia tersenyum lebar,
seolah menunjukkan, jangankan menangis, membuatnya murung saja takkan
ia lakukan.
Gadis itu kusut sekali dengan senyum
tanggungnya. Berkali-kali ia melirik pemuda itu. “Ya Tuhan, seharusnya
yang kau lakukan saat ini memegang kerah Andrei, dan menonjoknya
kuatkuat, dasar bodoh, dan bukan justru sebaliknya ikutikutan tertawa.”
Gadis itu tersenyum getir.
***
Pagi
ini seharusnya ia-lah yang sambil bersiul datang memencet bel rumah
gadis itu. Tersenyum takzim menyapa calon mertua. Tetapi lihatlah, ia
justeru kacau berdandan seadanya, memakai kemejakusut dasi-berdebu,
berjalan gontai menghidupkan kendaraan, berpikir gadis itu pasti sedang
tertawa bahagia bersama playboy kelas kakap itu.
Semua
teman kantor bersuit saat melihat mereka tiba di ruang resepsi. Dengan
tingkah laku Andrei yang sangat berpengalaman, mereka benar-benar
kelihatan seperti pasangan hebat. Gadis itu terlihat tersenyum
kemana-mana, mengumbar kebahagiannya. “Begitu mudahkah ia terpikat
dengan playboy itu?” dengan masam pemuda itu menyendok koktail di pojok
ruangan. Jantungnya pedih sekali.
Ketika tiba saatnya
berfoto, semua teman-teman berkumpul di sebelah panggung, bersiap
menunggu MC menyebutkan giliran mereka: lantai sebelas. Ketika olok-olok
semakin ramai ketika mereka berkumpul, gadis itu justeru terlihat
tersenyum semakin bahagia. “Ia benar-benar menikmatinya,” bisiknya
lirih.
“Ah ini dia si Azhar, kamu udah lihat Dahlia kan. Gila, serasi bukan!”
“Seharusnya kau menirunya Zhar. Pendiam, tapi diam-diam bawa gebetan!”
Yang lain tertawa ramai sekali.
“Andrei,
kalau lu sedikit saja membuat Dahlia menangis, kutikam kau!” seru
seseorang lagi, dan Andrei sambil merengkuh bahu Dahlia tersenyum lebar,
seolah menunjukkan, jangankan menangis, membuatnya murung saja takkan
ia lakukan.
Gadis itu tersenyum, semakin mengembang. “Bah.
Ia sedikit pun sama sekali tidak menatapku,” bisik pemuda itu dalam
hening. Berkali-kali melirik mencoba memberikan kode. “Lihatlah aku,
Dahlia. Please. Bukankah aku lebih baik darinya? Sesungguhnya apa yang
kau cari?” terluka pemuda itu meratap dalam diam. Dan ketika mereka
berfoto bersama. Bajingan itu merengkuh lebih erat lagi bahu gadis itu.
Dan
ketika semua teman-teman lantai sebelas turun, mereka berdua masih
berdiri di sana, berfoto berempat bersama kedua mempelai. Gadis itu
sekali lagi tersenyum amat bahagia. “Senyum mempelai wanita saja kalah,”
umpat pemuda itu dalam hati. Maka semenjak detik itu, si pemuda dengan
jantung tercabik-cabik mengubur dalam-dalam segenap cintanya.
“Cinta memang tak pernah adil,” keluhnya terluka.
***
Extended:
“Hai!” Gadis itu tersenyum.
“Hai!” Pemuda itu juga tersenyum.
Pintu
lift menutup pelan. Keheningan kemudian menyelimuti. Tak pernah ada
yang bisa mendengar dengung lift bergerak, tetapi bagi mereka berdua
yang sedang takzimnya, bekas telapak tangan di kaca lift pun terlihat
amat jelas. Si gadis sembunyisembunyi melirik. Si pemuda batuk-batuk
kecil berusaha mengendalikan perasaannya. Mereka bertatapan sejenak.
Gelagapan bersama.
“E, mau makan di mana?” si pemuda pura-pura
merapikan dasinya. Mukanya merah kebas. Ia tahu persis gadis itu selalu
makan di basemen itu. Gadis itu juga tahu persis pemuda itu lebih suka
makan di lantai satu.
“Lanti satu! Lu, mau makan dimana, Zhar?”
“Basemen!” Ya ampun, ia sungguh tak tahu kenapa kalimat itu yang keluar dari mulutnya.
Basa-basi
saling melambaikan tangan, mereka berpisah saat pintu lift terbuka.
Berharap seharusnya mereka saat ini justeru sedang bergandengan menuju
kafe di menara atas.
Kafe para pencinta.
***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar